Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 08 Maret 2010

AYAT-AYAT AL QUR’AN TENTANG PENCIPTAAN MANUSIA

AYAT-AYAT AL QUR’AN TENTANG PENCIPTAAN MANUSIA
I. PENDAHULUAN.
Allah ta’ala telah menceritakan proses penciptaan manusia di dalam al-Qur`an secara terperinci, Allah berfirman dalam surat al-Mu`minun,:
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasuci-lah Allah, Pencipta yang paling baik”.
Dokter ahli kandungan nomor satu dunia berkebangsaan Kanada, Keith Moore menyebutkan, bahwa semua yang disebutkan di dalam al-Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang proses penciptaan manusia adalah sesuai dengan yang ditemukan pada ilmu pengetahuan modern. Dia memiliki sebuah buku yang diterjemahkan ke dalam delapan bahasa; dipelajari di sebagian besar universitas-universitas di dunia. Dia menyampaikan pidato dengan tema, “Keselarasan ilmu kandungan dengan apa yang terdapat dalam al-Qur`an dan as-Sunnah” di Universitas al-Malik Faishal. Dia berkata, “Sungguh ilmu pengetahuan ini, yang terdapat dalam al-Qur`an, membuktikan kepada saya bahwa al-Qur`an yang dibawa oleh Muhammad datang dari sisi Allah, sebagaimana juga membuktikan bahwa Muhammad adalah seorang rasul yang diutus oleh Allah”. Dia juga berkata dalam pidatonya, “Manusia ketika pertama kali diciptakan dalam perut ibunya berbentuk segumpal darah. Kemudian setelah itu ciptaannya meningkat menjadi segumpal daging. Kemudian berubah menjadi tulang-belulang, dan kemudian dibungkus dengan daging”. Dan katanya, “Semua yang kami dapatkan dalam penelitian-penelitian kami, kami mendapatkannya tertera dalam al-Qur`an”.
Seorang doktor berkebangsaan Amerika, profesor dalam bidang ilmu kandungan berkata pada muktamar yang diselenggarakan oleh Kerajaan Saudi Arabia di Riyadh, “Nash-nash al-Qur`an memaparkan rincian yang lengkap tentang proses pertumbuhan manusia, dimulai dari tahap tetesan mani sampai pada tahap pertumbuhan menjadi tulang dan tubuh”. Dan katanya, “Belum ada dalam sejarah manusia, ditemukan paparan tentang peroses pertumbuhan manusia yang gamblang seperti ini”.
II. PROSES PENCIPTAAN MANUSIA.
Allah SWT berfirman:
“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari sari tanah, kemudian kami menjadikannya air mani pada tempat yang kukuh dan terpelihara (rahim) kemudian kami menjadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging kami jadikan tulang-tulang, maka kami liputi tulang-tulang itu dengan daging, kemudian kami menjadikannya satu bentuk yang lain. Maha suci Allah sebaik-baik pencipta”.
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur[1535] yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar dan Melihat”.
Proses kejadian manusia berawal dari dalam kandungan selama lebih kurang sembilan bulan. Selama di dalam kandungan kejadian manusia mengalami beberapa proses: Dari setetes air mani. Setelah beberapa lama, menjadi segumpal darah. Allah berfirman di dalam surat Al-Alaq:
"Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah".
Kemudian setelah beberapa lama menjadi segumpal daging. Kemudian dari segumpal daging tadi dijadikan tulang-tulang yang dibungkus oleh daging-daging tersebut. Kemudian dijadikanlah bentuk rupa yang sempurna.
Di dalam tafsir Mafatihul Gaib dijelaskan: “kami ciptakan seorang makhluk dalam penciptaan pertama yang akan nantinya menjadi manusia akan tetapi dia kami non aktifkan. Dia memiliki mulut tetapi bisu. Dia memiliki telingga tetapi tuli, memiliki mata tetapi buta”.
Di dalam hadits Bukhari Muslim, masa tiap-tiap perubahan adalah 40 hari dan setelah sempurna maka Allah mengutus malaikat untuk menulis empat ketentuan:
1. Menuliskan amal perbuatannya selama hidupnya
2. Menuliskan rizkinya kaya atau miskin
3. Menuliskan nasibnya baik atau buruk
4. Menuliskan ajalnya kapan, dimana dan bagaimana ia mati.
Di sini penulis kemukakan juga proses penelitian para ahli yang sejalan dengan Qur`an tentang proses kejadian manusia. Riset dan penelitian ilmiah kontemporer membuktikan bahwa Al-Quran banyak memiliki tanda-tanda ilmiah (sains). Hal ini diperkuat dengan banyaknya lahir buku-buku yang membahas korelasi antara Al-Quran dan sains modern. Meskipun Al-Quran bukanlah buku sains, namun jika ia sarat dengan sinyal-sinyal sains; hal ini tidak dapat dipungkiri keberadaannya.
Hal ini disinyalir oleh Dr. Dzakir Abdul Karim (2003) bahwa Al-Quran bukanlah buku sains, tetapi ia adalah buku yang memuat tanda-tanda (sains) saja. Di dalamnya terdapat 6.000 ayat lebih dan sekitar 100 ayat lebih berbicara masalah sains tersebut.
Dr. Ahmad Syauqi al-Fanjary (2000) menyatakan bahwa masalah reproduksi (al-tanâsul) dan pertumbuhan embrio (nasy’ah al-janîn) merupakan salah satu rahasia ilmiah yang sangat kompleks. Ia begitu rahasia bagi manusia hingga ditemukannya mikroskop yang canggih, seperti mikroskop elektron yang mampu membesarkan benda hingga mencapai 200.000 kali. Hal ini tidak ada sebelumnya, kecuali pada abad ke-20.
Hal ini juga disinyalir oleh Dr. Zakaria Hamîmiy di dalam bukunya al-‘I`jâz al-`Ilmiy fî al-Qur’ân al-Karîm bahwa hingga mendekati abad ke-19 para ahli embrio (ulamâ` al-‘ajinnah) terbagi dua kubu; kubu pertama kelompok yang menyatakan bahwa manusia telah menjadi makhluk (tercipta) dengan sempurna di dalam sperma dalam bentuk yang hina dan kelompok kedua adalah kelompok yang menyatakan bahwa manusia telah tercipta dengan sempurna di dalam sel telur (ovum) seorang wanita. Beliau kemudian menjelaskan bahwa di saat para ilmuwan itu belum mampu untuk mengetahui kebenaran tersebut, kita melihat bahwa Al-Quran sejak empat belas abad silam telah memastikan hal itu…
Hal tidak diragukan lagi merupakan salah satu mukjizat ilmiah dalam Islam yang dikemas dalam Al-Quran sebagai wahyu pamungkas bagi manusia.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhamu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”.
Menurut Dr. Zagloul Najjar, surat tersebut dinamakan dengan surat "Al-`Alaq” karena di dalamnya terdapat fase penciptaan manusia. Dimana bentuk dan cara makan embrio itu menyerupai lintah (dûdah al-`alaq).
Dr. Keith L. Moore, seorang ilmuwan Barat kontemporer pertama yang menulis tentang kelebihan Al-Quran yang lebih maju dalam embriologi. Beliau menulis sebuah buku yang berjudul The Developing Human. Buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diajarkan di berbagai fakultas kedokteran di Amerika, Jepang, Jerman dan seluruh negara-negara di dunia sebagai referensi embriologi.
Dr. Ketih L. Moore sendiri belum memiliki informasi bahwa awal dari jadinya embrio berbentuk seperti segumpal darah (`alaqah). Untuk menguji kebenaran tersebut, beliau melakukan riset fase awal embrio dalam sebuah mikroskop di laboratorium pribadinya. Beliau melakukan komparasi catatannya dengan bentuk segumpal darah tersebut. Setelah itu beliau sangat tercengang ketika melihat kesamaan bentuk antara keduanya. Akhirnya, beliau memperoleh berbagai informasi (pengetahuan) yang belum diketahuinya dari Al-Quran. Terbukti bahwa Al-qur`an telah menceritakan salah satu kemukjizatanya.
Selanjutnya, fase segumpal darah (`alaqah) berlanjut terus dari hari ke-15 sampi hari ke-24 atau ke-25 setelah sempurnanya proses pembuahan. Meskipun begitu kecil, namun para ahli embriologi mengamati proses membanyaknya sel-sel yang begitu cepat dan aktivitasnya dalam membentuk organ-organ tubuh. Mulailah tampak pertumbuhan syaraf dalam pada ujung tubuh bagian belakang embrio, terbentuk (sedikit-demi sedikit ) kepingan-kepingan benih, menjelasnya lipatan kepala; sebagai persiapan perpindahan fase ini (`alaqah kepada fase berikutnya yaitu mudhgah (mulbry stage)). Mulbry stage adalah kata dari bahasa Latin yang artinya embrio (janin) yang berwarna murberi (merah tua keungu-unguan). Karena bentuknya pada fase ini menyerupai biji murberi, karena terdapat berbagai penampakan-penampakan dan lubang-lubang (rongga-rongga) di atasnya.
Realitanya, ungkapan Al-Quran lebih mendalam, karena embrio menyerupai sepotong daging yang dikunyah dengan gigi, sehingga tampaklah tonjolan-tonjolan dan celah (rongga-rongga) dari bekas kunyahan tersebut. Inilah deskripsi yang dekat dengan kebenaran. Lubang-lubang itulah yang nantinya akan menjadi organ-organ tubuh dan anggota-anggotanya.
Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa embrio terbagi dua; pertama, sempurna (mukhallaqah) dan kedua tidak sempurna (ghair mukhallaqah). Penafsiran dari ayat tersebut adalah: Secara ilmiah, embrio dalam fase perkembangannya seperti tidak sempurna dalam susunan organ tubuhnya. Sebagian organ (seperti kepala) tampak lebih besar dari tubuhnya dibandingkan dengan organ tubuh yang lain. Lebih penting dari itu, sebagian anggota tubuh embrio tercipta lebih dulu dari yang lainnya, bahkan bagian lain belum terbentuk. Contoh, kepala. Ia terbentuk sebelum sebelum bagian tubuh ujung belum terbentuk, seperti kedua lengan dan kaki. Setelah itu, secara perlahan mulai tampaklah lengan dan kaki tersebut. Tidak diragukan lagi, ini adalah I’jâz `ilmiy (mukjizat sains) yang terdapat di dalam Al-Quran. Karena menurut Dr. Ahmad Syauqiy al-Fanjary, kata `alaqah tidak digunakan kecuali di dalam Al-Quran.
Dari penjelasan singkat di atas dapat ditarik sebuah konklusi bahwa Al-Quran bukan hanya sebagai kitab suci yang membacanya merupakan ibadah, namun ia juga merupakan sebuah kitab yang banyak mengandung tanda-tanda ilmiah. Hal ini semakin membuktikan bahwa Al-Quran itu benar-benar wahyu dari Allah, bukan buatan Muhammad SAW. Fakta ini telah banyak dibuktikan oleh para ilmuwan Barat, seperti Maurice Bucaille, Moris Bokay dan yang lainnya. Dan akhirnya mereka mengakui keagungan agama Islam lalu memeluknya.
Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah paling sempurna dibandingkan dengan machluk yang lainya, termasuk diantaranya Malaikat, Jin, Iblis, Binatang, dll. Tetapi kita sendiri sebagai manusia tidak tahu atau tidak kenal akan diri kita sendiri sebagai manusia.

III. PROSES KEHIDUPAN MANUSIA.
Allah sWT berfirman: Dan demi jiwa serta penyempurnaan (penciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Pada hakekatnya manusia diciptakan Allah SWT di dunia ini bukan secara main−main:
“Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” , melainkan untuk mengemban amanah / tugas utama yakni Mengabdi / Beribadah semata−mata kepada−Nya.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Sebelum penciptaan manusia tersebut Allah SWT telah Menghendaki manusia menjadi Khalifah Allah di muka bumi ini
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.".
Allah telah memuliakan manusia dengan memberi mereka rezki dari yang baik−baik dan melebihkan manusia dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk (lain) yang telah Allah SWT ciptakan.
“Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.” Disamping itu, Dia meninggikan sebahagian manusia atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, antara lain dengan menjadikan penguasa−penguasa di bumi, untuk mengujinya.
“Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”.

Agar fungsi dan tujuan diciptakan−Nya manusia tersebut dapat dijalankan dengan baik maka Allah SWT telah menurunkan Petunjuk dan Peraturan−Peraturan (Syariat) hidup bagi seluruh manusia, melalui perantara (diutus−Nya) Nabi−Nabi dan Rasul untuk menyampaikan Ayat/ Peraturan agar manusia mendapat Petunjuk−Nya:
"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang−orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat−ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar−benar dalam kesesatan yang nyata."
Allah SWT telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik−baiknya, namun manusia akan dikembalikan ke tempat yang serendah−rendahnya (neraka), kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal saleh.
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. Padahal sesungguhnya, Allah SWT menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah yang kemudian dijadikan−Nya saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim), kemudian air mani itu dijadikan−Nya segumpal darah, lalu segumpal darah itu menjadi segumpal daging, dan segumpal daging itu menjadi tulang belulang, lalu tulang belulang itu dibungkus−Nya dengan daging, kemudian Dijadikan−Nya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik”.
Manusia tidak dapat hidup dengan sendirinya melainkan juga membutuhkan satu sama lain agar dapat saling menasehati menuju kebenaran dan kesabaran.
"Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar−benar dalam kerugian, kecuali orang−orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat−menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran".
Dan manusia diberi derajat kehidupan dunia yang berbeda sesungguhnya untuk menguji mereka mana diantara mereka yang yakin dan taat kepada Tuhannya serta dapat memasrahkan diri serta ridho atas segala taqdir Allah kepadanya, serta segala perilaku dan perbuatannya kelak akan dimintai pertanggung jawaban.
IV. MANUSIA YANG PERTAMA DICIPTAKAN.
Manusia yang pertama diciptakan bernama Adam. Kata Adam muncul 25 kali, tetapi tidak terdapat pernyataan pasti dalam al-Qur'an yang menyebutkan Adam sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah.
Artinya: “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, Kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah Dia”.
Bahwa kata Adam berfungsi sebagai satu kata benda kolektif mengacu kepada umat manusia, diperkuat oleh analisis terhadap ayat-ayat di mana kata itu muncul. Penggunaan kata Adam untuk kata benda kolektif dikuatkan oleh kenyataan bahwa al-Qur'an kadang-kadang menggunakan kata al-insan atau bashar sebagai ganti
Adam, dua istilah yang umum dipakai untak mengacu kepada umat manusia tertentu, tetapi ia ternyata mengacu kepada umat manusia dalam pengertian tertentu, sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Iqbal: Dalam ayat-ayat yang menerangkan asal mula kejadian manusia, Qur'an menggunakan istilah bashar, al-insan, dan an-nas dalam menggambarkan penciptaan fisik manusia.
Al-Qur'an menggunakan Adam secara lebih selektif dalam mengacu kepada umat manusia hanya ketika mereka menjadi wakil dari manusia yang sadar diri, berilmu dan secara moral bertanggung jawab. Menyebutkan "Adam dan Hawwa," al-Qur'an berbicara tentang "Adam dan Zauj." Orang-orang Islam, hampir tanpa kecuali, mengasumsikan bahwa Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah dan bahwa dia adalah laki-laki. Jika Adam adalah seorang laki-laki, maka zaujnya, atau pasangannya pasti perempuan. Karena zauj yang disebut dalam al-Qur'an disamakan
dengan Hawwa (Eve). Namun, tidak ada ayat-ayat dalam al-Qur'an yang secara jelas atau meyakinkan mendukung asumsi di atas maupun penafsiran yang disimpulkan darinya. Al-Qur'an juga tidak menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama atau bahwa Adam adalah laki-laki.
Al-Qur'an menguraikan penciptaan manusia dalam kurang lebih 30 bagian yang terdapat dalam berbagai bab. Secara umum, al-Qur'an menyatakan penciptaan umat manusia (dan alam semesta) dalam dua cara: sebagai satu proses evolusi di mana berbagai tahapan dan fase disebut kadang-kadang bersamaan dan kadang-kadang secara terpisah, dan sebagai satu kenyataan yang sempurna dalam totalitasnya. Dalam bagian-bagian yang menerangkan penciptaan manusia secara "konkret" atau "analitis" tidak terdapat keterangan yang menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan secara terpisah atau berbeda. Dalam bagian-bagian yang menerangkan tentang Allah yang menciptakan manusia dengan jenis kelamin yang berbeda, tidak ada prioritas yang diberikan baik kepada laki-laki maupun perempuan.
Selanjutnya dari diri adam diciptakan oleh Allah seorang wanita, Hawa namanya. Sebagaimana dalam Al Qur’an:
Artinya : Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain , dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa al-Qur'an menerangkan penciptaan manusia yang berasal dari satu sumber yang mula-mula diciptakan Allah adalah manusia yang diberi nama Adam.

V. KESIMPULAN.
Al Qur’an telah menerangkan penciptaan manusia oleh Allah SWT bahwa yang diciptakan pertama kali adalah Adam a.s. yang diciptakan dari tanah (turob), dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk, kemudian Allah menyemournakan kejadiannya dan meniupkan ruh (ciptaan)-Nya. Dari diri Adam diciptakan oleh Allah seorang wanita, Hawa namanya. Dan Adam sebagai manusia yang diciptakan pertama kali maka is sebagai nenek moyang manusia.
Penciptaan manusia selanjutnya setelah adanya Adam dan Hawa, maka manusia diciptakan dari sari pati tanah yang kemudian diubah menjadi air mani, yang membuahi ovum kemudian tersimpan dalam rahim sebagai suatu tempat yang kokoh, kemudian berkembang dengan tahapan yang teratur, sehingga terbentuklah makhluk yang baru kemudian ditiupkan ruh padanya.
Manusia diciptakan bukan secara main-main melainkan untuk mengemban amanat, tugas keagamaan, untuk mengabdi, beribadah, dan sebagai khalifah atau pengelola bumi, dan kehidupannya dibedakan derajatnya satu dengan yang lain untuk mengujinya, apakah mereka dapat beramar makruf, nahi munkar yang diperintahkan Allah, dan kelak manusia dimintai pertanggung jawaban.









DAFTAR PUSTAKA

Baihaki AK., Mendidik Anak Dalam Kandungan, (Jakarta : Darul Ulum Press, 2004).

Choiruddin Hadhiri, Klasifikasi Kandungan Al Qur’an, (Jakarta : Gema Insani Press, 1993).

Fakhrurozi , Tafsir Al Kabir, (Kairo : ulumul Kitab, 1985).

Harian Ahram, 11/10/2004 Nomor 26/Edisi VI/Th. I.

Muhammad Faiz Al Math, 1100 Hadits Terpilih Sinar Ajaran Muhammad, (Jakarta ; Gema Insani Press, 2001).

Salman Harun, Mutiara Al Qur’an, (Jakarta : Logos, 2004).

Sayyid Sabiq, Unsur-Unsur Dinamika Dalam Islam, (Jakarta : Intermasa, 1992).

Zakaria Hamîmiy, al-‘I`jâz al-`Ilmiy fî al-Qur’ân al-Karîm, (Kairo : Darul Ilmi al Arabi, 2002)











AYAT-AYAT AL QUR’AN TENTANG PENCIPTAAN MANUSIA


MAKALAH

Oleh:
LAILA ARIFIN
NPM: 200820614

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah
Tafsir Tarbawi

Dosen : Dr. Alamsyah, M.Ag.









PROGRAM STUDI ILMU TARBIYAH
KONSENTRASI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
PROGRAM PASCASARJANA (PPs)
IAIN RADEN INTAN
BANDAR LAMPUNG
1429 H/2008 M

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar